* Miracle Honeybee: satpam, cleaning service n arsitek jenius

Hampir setiap kita tahu khasiat madu sebagai sumber nutrisi bagi tubuh. Namun, hanya sedikit yang mengetahui kehebatan ‘sang produser’ madu itu sendiri, lebah madu. Sumber makanan lebah adalah nektar – yang notabene tidak bisa lebah dapatkan selama musim dingin. Oleh karena alasan inilah, lebah-lebah mengumpulkan nektar pada musim panas dan kemudian dengan sekresi tertentu dari tubuh mereka, menghasilkan bentuk makanan baru – madu, yang disimpan untuk makanan selama musim dingin. Uniknya, jumlah madu yang dihasilkan dan disimpan oleh koloni lebah madu ternyata jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh lebah-lebah itu sendiri. Fenomena ini, kemudian memunculkan pertanyaan “kenapa lebah-lebah madu itu ‘buang-buang tenaga n waktu’ buat ngumpulin madu melebihi kebutuhan mereka?” Atau kita-kita yang tinggal di negara tropis mungkin merasa lebih aneh, “toh Indonesia cuma ada musim hujan dan musim kemarau, jadi harusnya lebah-lebah gak perlu ngumpulin nektar untuk persediaan musim dingin kan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jika kita kaitkan dengan ‘kebetulan’ bahwa madu tersebut sangat berkhasiat bagi kesehatan manusia, akan membawa kita pada kesimpulan bahwa pastilah ada semacam ilham yang diberikan kepada lebah untuk memproduksi madu tidak hanya bagi lebah itu saja, melainkan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Lebah, seperti banyak makhluk hidup lainnya, ada di bumi ini untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Ayam yang bertelur setiap hari meskipun tidak ada manfaatnya bagi si ayam sendiri, atau sapi yang menghasilkan susu melebihi kebutuhan anak-anaknya. Segala puji bagi Allah yang telah menyediakan semua ‘fasilitas’ ini bagi kita.

“dan Dia Menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir”.
(QS. Al-Jatsiyah : 13)

Tidak saja madu yang dihasilkan oleh lebah yang hebat manfaatnya. Namun, setiap detail kehidupan makhluk kecil ini pun tak kalah mengagumkan, mulai dari tempat tinggal, cara kerja, struktur ‘organisasi’ hingga bagaimana mereka memproduksi madu.

Lebah sebagai tukang AC, cleaning service, satpam dan tukang semen
Lebah-lebah berkoloni yang tinggal didalam sebuah sarang memiliki banyak tugas. Pembagian tugas-tugas ‘rumah tangga’ ini mereka atu r dengan sangat rapi (ho-ho…bukan DPR aja ya yang punya pembagian tugas)
Beberapa diantara pekerjaan ‘rumah tangga’ mereka adalah :

– Mengatur kelembaban dan sirkulasi udara dari sarang
Sarang harus dijaga agar tetap didalam tingkat kelembaban tertentu, mengingat sarang tidak saja sebagai tempat tinggal mereka, namun juga sebagai tempat penyimpanan madu yang terjaga kualitasnya. Jika tingkat kelembapan berada dibawah atau di atas standar, maka madu terancam rusak, kehilangan nutrisi – yang kemudian tidak bisa dikonsumsi oleh lebah dan tentunya, kita, manusia.
Begitu pun dengan suhu, sarang lebah memiliki suhu 320C (waduhh…gak kebayang lebah itu pake termometer udara ukuran berapa ya😀 ). Lebah menjaga agar sarang tetap pada suhu tersebut selama + 10 bulan !
Untuk mengatur suhu dan sirkulasi udara….mmm gak mungkin lebah pake AC or kipas angin….selain berat, juga gak muat masuk sarang-nya…he-he…
Lebah membentuk kelompok yang berperan sebagai ‘kipas angin’ untuk menjaga agar sarang stabil suhu dan kelembapannya. Caranya, lebah-lebah ventilator ini berkumpul merapat didepan ‘pintu’ masuk sarang, lantas mengerakkan sayap-sayap mungil mereka untuk mengipasi sarang (duhhh…kalo bisa di-zoom, lucu kali ya…lebah-lebah mungil lagi bergantungan ngipasi rumahnya). Nah, selain ‘tukang kipas’ di pintu, lebah-lebah di bagian dalam sarang juga ada sebagai ‘tukang kipas tambahan’ yang menggerakkan udara (bukan Avatar lho..) hingga ke sudut-sudut ruangan sarang. Sistem AC (Angin Cepoi-cepoi) ini juga bermanfaat untuk menghilangkan asap dan polusi dari rumah tercinta para lebah.

P.S. buat ‘mas-mas’ lebah pengatur ventilasi : thanks so much ya, karena kalian, saya bisa makan madu yang baik kualitasnya dan steril dari bakteri. SubhanaAllah

– Bersih-bersih rumah
Sama halnya dengan aktivitas kita membersihkan rumah, lebah-lebah pun ada yang bertugas ‘nyapu’, ‘nge-pel’ dan memperbaiki sarang, bahkan aktivitas mereka ini melibatkan zat-zat canggih yang dihasilkan sendiri lho! (yay, kalo kita mah..super pel or karbol tinggal beli di warung sebelah). Tujuan utama sistem kebersihan didalam sarang lebah adalah untuk menghilangkan segala sesuatu yang bisa menimbulkan kuman/bakteri didalam sarang. Gak jauh beda dengan kita yang nge-pel lantai pake karbol biar gak ada kuman!.
Untuk nge-jaga sarang dari gangguan serangga lainnya, ada lebah-lebah ‘satpam’ yang bertugas di depan pintu. Jika benda/organisme yang mengganggu terlalu besar untuk dibuang, maka lebah-lebah melakukan sistem ‘pembalseman’. Lebah akan mem-balsem (membungkus) benda asing tersebut dengan cairan yang disebut propolis (resin lebah). Bagi lebah, propolis bermanfaat menghilangkan bakteri dari sarang mereka. Cairan resin ini dikumpulkan lebah dari tanaman poplar, pinus dan akasia. Nah, yang makin membuat saya terkagum-kagum adalah : kalo ada keretakan pada sarang, maka lebah-lebah akan menambal keretakan itu dengan ‘semen’ yang terbuat dari campuran propolis tersebut ditambah sekresi tertentu dari tubuh mereka. Campuran ini bakal mengering dan mengeras jika terkena udara, persis seperti semen bangunan rumah kita. Cck…bukan kita aja yang punya ahli semen ya he-he…

Renungan :
“Bagaimana bisa serangga mungil yang hanya berukuran 1-2 cm ini tahu dan membedakan bahwa organisme yang masuk kedalam sarang dapat menimbulkan bakteri didalam sarang mereka?”, “Bagaimana mereka bisa mengetahui cairan untuk mem-bunuh bakteri, membalsem serangga lain yang masuk, me-nyemen ‘dinding rumah’ yang retak?” – sementara manusia memerlukan skill, waktu dan laboratorium untuk mempelajari suatu cairan kimia. Dan semua aktivitas lebah ini berujung pada kualitas madu yang bisa kita nikmati manfaatnya…
Allahu Akbar dengan segala kesempurnaan ciptaan-Nya.

 

Apartemen Heksagon Yang Super Canggih.
Sarang lebah dapat menampung sekitar 30 ribu lebah yang bekerja dan hidup bersama. Sarang ini terbuat dari lapisan lilin yang disebut beeswax, dibangun oleh ratusan lebah secara bersama-sama dan terdiri dari ratusan sel di masing-masing sisi-nya (satu sarang lebah memiliki 2 sisi yang saling membelakangi). Sel-sel tersebut berfungsi untuk tempat membesarkan anak dan menyimpan makanan. Hebatnya, setiap ‘kamar’ memiliki ukuran yang sama persis, tidak ada yang kebesaran atau kekecilan 1 mili pun. ‘Kamar-kamar’ lebah berbentuk segi enam (heksagon), dan ini sudah berlangsung selama jutaan tahun (fosil sarang lebah yang pertama ditemukan tercatat berusia jutaan tahun). Lebah ‘memilih’ bentuk segi enam (heksagon) – bukan segi lima (pentagon) atau segi delapan (octogon) – ternyata memiliki hikmah tersendiri. Ahli matematika mengungkapkan bahwa struktur heksagonal (segi enam) merupakan struktur bangun yang paling cocok  untuk area dengan pemanfaatan maksimum. Jika sel-sel sarang lebah dibuat dalam bentuk yang lain, maka akan ada sisa ‘ruang’ yang tidak akan terpakai/termanfaatkan. Singkatnya, lebah dapat menyimpan madu lebih maksimal dan jauh lebih banyak jika sel berbentuk heksagonal. Meskipun struktur segitiga dan segiempat dapat menyimpan dengan volume yang sama banyaknya, namun lagi-lagi rahasia alam, ternyata jumlah lilin yang diperlukan untuk membentuk sel segi enam lebih sedikit dibandingkan jika lebah harus membentuk sel tersebut segiempat atau segitiga. Jadi dalam membangun rumah mereka, sepertinya lebah punya prinsip: daya tampung maksimum, tapi hemat ‘bahan bangunan’.

Ketika membangun sarang sekalipun, lebah menerapkan prinsip efisiensi ruang. Saat tiga sel ‘kamar’ berbentuk heksagonal dibangun, maka ini akan otomatis membentuk dasar bagi sisi lainnya. Sarang lebah memiliki dua sisi yang saling membelakangi. Lebah pun ternyata ‘mempertimbangkan’ inklinasi (ketinggian) sarang mereka dari permukaan tanah, yakni dengan menaikkan ketinggian sel-sel pada kedua sisi sebesar 130, sehingga tidak paralel ke tanah. Ini bertujuan agar madu tidak tumpah atau menetes dari mulut sel. Ketika membangun sarang, lebah-lebah bergantungan satu sama lain dalam kelompok-kelompok. Dengan gaya seperti ini, mereka bisa mempertahankan suhu bagi lilin yang akan digunakan membangun sarang. Kantung kecil di bagian perut mereka memproduksi cairan bening yang jika dikeluarkan akan mengeras dan membentuk lapisan lilin. Lebah-lebah mengumpulkan cairan lilin ini dengan ‘pengait’ kecil yang ada pada kaki mereka. Lalu mereka masukkan kedalam mulut, dikunyah hingga lembut, baru kemudian digunakan untuk membentuk sel-sel yang akan menjadi ‘kamar-kamar’ mereka. Sementara itu, lebah-lebah juga menjaga suhu agar lilin tetap lembut dan mudah dibentuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: